IndigoNews • Jan 13 2026

Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, (F/Humas).
Mamuju, IndigoNews | Angka anak putus sekolah (APS) di Sulawesi Barat masih jadi pekerjaan rumah yang belum tuntas. Pemerintah daerah terus berupaya memperbaiki layanan pendidikan, tapi grafik penurunannya belum terlihat signifikan.
Gubernur Sulbar Suhardi Duka (SDK) mengatakan persoalan ini harus dibenahi dari akarnya. Ia ingin penyebab anak putus sekolah atau anak tidak sekolah digali lebih rinci.
“Pertama kita cari akar masalahnya, bisa saja banyak terjadi, saya belum mendapatkan laporan berapa bangku yang tersedia di SMP kelas 3 dengan bangku yang tersedia di SMA dan SMK, nah kalau itu selisih berarti itu salah satu akibatnya adalah sarana, tapi kalau ternyata seimbang berarti ada masalah apakah persoalan ekonomi, ataukah persoalan mental, bisa juga persoalan tenaga kerja,” tutur Suhardi Duka, Selasa (13/1/2026).
Kalau gambaran dasarnya sudah jelas, kata dia, intervensi program yang dijalankan dipastikan lebih tepat sasaran.
“Kalau semua itu bisa ketahui barulah di situ kita bisa mengambil kebijakan-kebijakan apa yang kita intervensi,” jelas SDK.
SDK mengatakan, anak putus sekolah bukan persoalan kecil. Masalah itu tak boleh dibiarkan berlarut, olehnya itu ia telah memerintahkan dinas terkait untuk segera menelusuri penyebab anak putus sekolah.
“APS, Anak putus sekolah, itu adalah masalah dan tak boleh dibiarkan terus menerus seperti itu, dengan demikian upaya untuk meningkatkan IPM kita bisa kita naikkan,” jelasnya.
Tahun 2025 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Sulbar memang naik satu poin, tapi SDK bilang capaian itu bisa lebih baik kalau APS ditangani serius. Ia menargetkan angka IPM bisa bergerak ke kisaran 75–76.
Baru-baru ini, dalam pertemuan bersama Komisi IV DPRD Sulbar dan Dinas Pendidikan, muncul usulan pembentukan tim khusus untuk mengusut penyebab utama APS.
Suhardi Duka menerima ide tersebut dan menilai langkah ini bisa mempercepat temuan di lapangan mulai dari situasi sekolah, kondisi ekonomi keluarga, hingga faktor sosial yang membuat anak tak melanjutkan pendidikan.
“Boleh, boleh kita bentuk itu tim, apakah tim terpadu pemerintah atau melibatkan kabupaten, melibatkan lembaga sosial bisa juga, saya sambut baik,” ujarnya.
Pewarta IndigoNews : Wahyu Ananda
Mamuju, IndigoNews | Pelaksanaan Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) terkait Rancangan Peraturan Daera...
Jakarta, IndigoNews | Memperingati delapan dekade pengabdian kepada negeri, PT Bank Negara Indonesia...
Jakarta, IndigoNews | Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, bersama para kepala daerah se-Sulawesi ...
Bogor, IndigoNews | Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sulawesi Barat, Saefur Rochim, menegaska...
Mamuju, IndigoNews | Tim MF Taekwondo Mamuju sukses menorehkan prestasi gemilang dalam ajang bergeng...
Mamuju, IndigoNews | Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sulawesi Barat, Saefur Rochim, menyorot...
MAMUJU,indigonews | Penanganan kasus kekerasan dalam rumah tangga ( KDRT ) yang bergulir di meja penyidik Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) ...
Mamuju, IndigoNews | Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum Sulawesi Barat (Kakanwil Kemenkum Sulbar), Saefur Rochim melaksanakan kunjungan k...
MAMUJU, indigonews| Aktivitas pertambangan galian C yang dilakukan oleh CV.Aprilia, menimbulkan keresahan bagi warga setempat khusus nya bagi wa...
Mamuju, IndigoNews| Biro Pemkesra Setda Provinsi Sulawesi Barat mengadakan rapat penting yang membahas beasiswa Pemerintah Provinsi Sulawesi Bar...
MAMUJU, IndigoNews | Mendapat laporan dari seorang suami inisial AF, bahwa Istrinya Inisial NV bersama seorang pria HS (mantan kepala desa di Ka...

No comments yet.